Akhir Kebohongan Eko Ramaditya Adikara


REPUBLIKA.CO.ID, Awal mulanya terjadi pada tahun 2003. Kala itu, Eko Ramaditya Adikara tengah menjadi pendengar aktif pada diskusi para blogger di sebuah stasiun radio.

Sebagai blogger tunanetra, kehadirannya dalam diskusi mengundang banyak perhatian. Sampai suatu saat, stasiun radio itu pun mengundangnnya sebagai pembicara dalam sebuah dialog. Pada kesempatan itu pula sempat terucap, bahwa Rama suka musik game dan bahkan bisa menciptakannya.

Dari situ Rama mengaku sebagai pencipta beberapa musik games buatan Nintendo (penghasil video game yang sudah terkenal seantero jagat). Sebuah keberanian untuk berbohong pun Rama lakukan. ”Akhirnya pengakuannya itu menjadi sorotan media,” tutur dia. Rama pun diwawancara oleh media cetak dan elektronik yang semakin melambungkan namanya sebagai tunanetra dengan bakat yang lebih. Banyak orang percaya lantaran dia memang bisa memainkan beberapa alat musik.

Dia pun tampil di acara Kick Andy yang mengundang decak kagum. Dalam pelatihan Santri Indigo (pelatihan teknologi informasi pada para santri) yang digelar Republika-PT Telkom pun, dia telah tampil enam kali sebagai pembicara. Lagi-lagi, tepuk sorak dan nada kagum terlontar dari para peserta atas ‘kemampuan’ Rama yang kelahiran 3 Februari 1981 tersebut.

Dan semua berjalan baik-baik saja sampai sebuah tema khusus muncul di situs yang mempertanyakan pengakuan Rama sebagai pencipta musik games Nintendo. Para blogger ragu dan sempat mempertanyakan, kok bisa Rama yang tunanetra menciptakan musik game itu. Padahal, untuk membuat musik game tersebut agar selaras dengan gerakan pemain yanng ada di game itu diperlukan kejelian mata untuk memandang. Misalnya, suara benturan saat pelaku di game itu terkena batu, dinding, atau barang lainnya. Atau juga suara loncatan seseorang dalam game itu dan lain sebagainya.

Dalam tema khusus yang menarik perhatian banyak orang tersebut, mereka mempertanyakan, bahwa tidak ada bukti klaim Rama yang mengakui mencipta beberapa musik games terkenal Nintendo terbaru, antara lain Super Mario Galaxy, Xenosaga, dan ChronoCross. Karena itu, tekanan demi tekanan diakui Rama menghampiri dirinya.

Rasa tertekan mulai merasukinya. Bayangan wajah orang tua dan wajah teman-teman yang dikenalnya pun mulai hadir. “Saya mulai sadar apa yang saya lakukan salah dan saya ingat orang tua dan teman yang membuat semakin berat melakukan pengakuan bahwa saya berbohong,” tuturnya sendu. Ia mengaku tak berani lagi mengklaim sebagai pencipta sebuah karya jika memang tak ada bukti otentik yang menyebutkannya. Selama ini, Rama hanya melakukan penamaan ulang atas karya cipta di beberapa musik game tersebut.

Rama pun telah menyesali semua kekeliruan itu. Ia menuturkan, “Andai tidak ada mereka (orang tua dan teman) mungkin akan lebih mudah menjalani kebohongan itu. Tapi, dari hati saya bilang sudah saatnya saya mengaku. Saya benar-benar tidak ada niatan untuk berbohong.”

“Mengaku sebagai pembuat musik game tercetus begitu saja” kata Rama dengan nada pelan Jumat (20/8). Ia mengaku tidak ada niatan sama sekali melakukan kebohongan sebagai pecipta musik game baru Nintendo. Semua berjalan begitu saja….

Seiring keterangan yang diberikan kepada Republika, Rama menitipkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang dilakukan kepada pembaca maupun pemirsa yang telah mengenal sosoknya sebagai pencipta musik game. Dengan segenap bakat yang ia miliki, Rama pun mengatakan akan tetap berkarya.

”Insya-Allah saya akan terus berkarya,” ucapnya di Jakarta. Dan Rama menegaskan tidak mau gegabah untuk menerbitkan pengakuan atas sebuah karya. Ia pun tetap optimis jika ada pihak yang ingin menampung karyanya kelak akan disambutnya dengan tangan terbuka.

Karena pengakuan ini pun sebuah buku berjudul “Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan” yang mengkisahkan tentang dirinya telah ditarik dari peredaran. Rama saat ini disibukkan kembali oleh media untuk menjelaskan pengakuan palsunya. Meski begitu keberaniannya untuk mengaku salah juga menjadi kelebihan yang mungkin tidak banyak orang yang bisa melakukannya belakangan ini.

Red: Arif Supriyono
Rep: Prima Restri Ludfiani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: