Bekal Kematian


Hari masih siang. Jarum jam menunjukkan angka dua, tetapi langit gelap. Hujan turun
dengan lebat diiringi angin kencang. Sesekali kilat menunjukkan cahayanya.
Aku sedang menghadiri acara pembubaran panitia Bakti Sosial Ramadhan, kegiatan yang
rutin diadakan pihak yayasan sekolah bekerja sama dengan pengurus POM, sekolah tempat
anakku menggali ilmu Islam. Acara ini akan diisi ceramah agama oleh Pak Bijaksana, ustadz
yang juga te-tanggaku.
Di tengah hujan lebat, melalui pintu yang terbuka lebar, kulihat Pak Bijaksana datang dengan
langkah tertatih menuju tempat acara. Cuaca tidak menyurut-kan langkah kaki aktivis DPP Partai
Keadilan itu untuk memberikan yang terbaik dari dirinya bagi umat. Penyakit kanker tulang
yang diidapnya bertahun-tahun tak juga mampu meluluhkan semangatnya dalam berdakwah.
Sungguh, ini bukan kali pertama kulihat langkah tertatih-tatih dari tubuh ringkih ustadz ramah itu.
Tidak cuaca, tidak penyakit, tidak kesempitan ekonomi: tak satu pun dari semua mampu
membuatnya istirahat dari menyeru pada kebaikan. Ketika ia beberapa waktu kemudian sudah tak
mampu menggerakkan badannya, masih banyak hal yang dapat disampaikannya pada mereka
yang datang silaturahmi. Masih dengan nada humor, masih dengan tatapan cinta dan masih selalu
bijak seperti namanya.
Melihat sosoknya, aku teringat sebuah tulisan yang pernah kubaca: Kita senantiasa meminta
sesuatu kepada orang lain. Sayangnya, kita sering lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apa pun yang
kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Kita selayaknya
meneladani sang surya yang memberi tanpa mengharap imbalan. Kita hanya perlu percaya bahwa apa pun
yang kita berikan suatu ketika pasti kembali kepada kita. Ini merupakan keniscayaan, suatu hukum alam
yang sudah ditetapkan Allah Swt..
Aku jadi ingat, di kemudian hari, aku pernah menemukan selembar formulir di antara
tumpukan makalah yang sedang kami rapikan, di rumahnya. Formulir pendaftaran masuk sebuah
perguruan tinggi swasta.
“Punya Pak Bijak. Beberapa bulan sebelum meninggal, dia memang punya keinginan
melanjutkan kuliah lagi,” begitu jawaban Mbak Ati, istri almarhum Pak Bijaksana, Lc. ketika aku
tanyakan perihal formulir itu.
Ah, begitu yakin Pak Bijak akan kesembuhan penyakitnya sehingga apa pun ingin dia lakukan.
Bukan hanya untuk masa sekarang, tapi untuk persiapan, entah beberapa tahun ke depan. Padahal
setahun menjelang wafatnya, kondisi kesehatannya sangat parah. la harus keluar masuk rumah
sakit dan sebentar-sebentar kritis karena kanker otot/tulang yang dideritanya sejak tahun 1995. Ya,
delapan tahun Pak Bijak berjuang melawan penyakitnya. Berbagai usaha dilakukan untuk
kesembuhannya. Dan selama delapan tahun itu dia dan keluarganya benar-benar hidup dengan
mengandalkan pada keyakinan, juga pada semangat, usaha dan kesabaran.
Dalam pertemuan terakhir dengan Pak Bijak, aku masih ingat bagaimana dia menangis di
pembaringan saat itu karena mendapat kabar bahwa adiknya meninggal setelah koma selama dua
pekan di RSCM. “Saya tahu, meninggal adalah takdir Allah. Tapi saya sedih sebagai seorang
kakak. Bekal apa yang bisa dibawa adik saya untuk menemui tuhannya?”
Maka, saat aku menemukan formulir pendaftaran itu, kembali aku terbayang semangat dan doa-
doa beliau untuk kami. Semangat untuk memberi pertanggungjawaban terbaik bagi hidupnya.
Bahwa jika ajal itu memang harus datang pada usia mudanya, paling tidak dia sudah melakukan
maksimal apa yang bisa dia lakukan. Dia sudah mencoba semuanya; untuk kesembuhan dirinya,
untuk menjadi seorang suami bagi seorang istri tercintanya, untuk menjadi seorang ayah bagi

empat putra-putrinya, menjadi guru bagi para mahasiswanya, menjadi da’i bagi umat, bahkan
menjadi salah satu perintis lahirnya Partai Keadilan di negeri ini.
Allah Swt. tidak pernah ingkar janji. Ketika Pak Bijaksana meninggal dunia, penggali kubur,
sahabat dan ratusan pelayat menjadi saksi betapa hidup Pak Bijak telah dilaluinya dengan teramat
bijaksana. Betapa ia sangat berarti dan betapa masyarakat sangat kehilangan. Sementara lamat-
lamat hidung kami terus mencium bau yang teramat wangi dari tubuhnya saat ia hendak
dikuburkan. Mahasuci Allah.

Lolita Damayanti, Kinan Nasanti & Helvy Tiana Rosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: