Cukuplah kematian sebagai nasihat…


assalaamu’alaikum wr. wb.

Kematian adalah sesuatu yang sulit dipahami, sekaligus begitu lazim terjadi. Umat manusia sudah sangat akrab dengan kematian sebagaimana ia juga akrab dengan kehidupan. Mati dan hidup adalah dua hal yang terus dipergilirkan. Kadang saya berhenti dan terhenyak, teringat pada orang-orang yang tidak akan lagi bisa saya jumpai ; paling tidak, bukan di dunia ini. Kematian itu begitu wajar, namun tidak pernah habis untuk dipikirkan. Mati itu mengherankan.

Saya masih ingat ketika Dokter menyatakan hidup dan mati adalah Allah SWT yang mengatur, kita tidak bisa mempercepat atau menunda kematian seseorang, ia hanya menyatakan dokter dan ilmu kedokteran hanyalah upaya untuk tetap mempertahankan kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan pada kita dan umat lainnya, ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kehidupan yang kita usahakan untuk tetap bisa dipertahankan maka kita akan mempertahankannya semaksimal mungkin,kita tidak boleh menyerah pada keadaan bahkan ia memberi perumpamaan seandainya kehidupan itu 100%, dan kita tinggal memiliki harapan 1%, maka yang satu persen tersebut harus kita pertahankan harapan hidup itu seoptimal mungkin bukannya kita padamkan.

Aku hanya bias tertunduk lesu mendengar semua nya karena kemarin pagi saya sudah mendengar dari dokter yang lainnya sebagai salah satu anggota tim dokter yang menangani anaku menyatakan bahwa otak kiri anakku sudah tidak berfungsi dan tadi pagi kembali aku menerima kenyataan yang lebih menyakitkan lagi bahwa batang otak anakku sudah tidak berfungsi, masih terngiang dalam benakku pernyataan Ibu Siti Fadillah yang mengomtari kondisi Pak Harto bahwa kondisi Suharto sebenarnya adalah sebuah kehidupan semu karena batang otak Suharto sudah tidak berfungsi dan ia menyarankan demi kemanusiaan mohon semua alat Bantu pernapasan dan lainnya dicabut.

Kini keadaan tersebut ada dihadapanku sendiri dan dialami oleh anakku, keadaan yang sangat sulit dipahami dan diterima, separo nyawaku seakan ikut melayang entah apa yang mesti akau katakana pada istriku mengenai kondisi ini, aku hanya bias menunduk lesu, segera aku mengambil air wudhu dan Sholat meminta petunjukNya, melihat aku sholat Istriku yang terus membacakan Qur’an disisi orang yang sangat dikasihinya terdengar menangis.

Tubuh sibuk bekerja, tapi pikiran saya tidak pernah lepas dari kematian itu sendiri. Gerangan apa yang sebenarnya terjadi? Anaku yang beberapa hari sebelummya masih bercanda dengan aku kini sudah tiada!

Ketika rombongan sampai di rumah dan jenazah sudah dibaringkan di ruang tengah, tak ada air mata yang mengalir di wajah. Saya sibuk memikirkan : apakah kematian itu sebenarnya? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Wajah yang tidak pernah nampak kelelahan meski dalam puncak sakitnya sekalipun itu, kini tidak lagi memancarkan ekspresi. Tubuh yang sebelumnya tampak bugar terbaring di tempat tidur itu kini tidak lagi bergerak.

Perlu waktu semalam bagi saya untuk benar-benar memahami bahwa Anakku benar-benar sudah tiada, dan tidak akan kembali lagi ke dunia ini untuk selamanya. Suatu konsep yang benar-benar susah bagi saya untuk memahaminya ; bagaimana orang yang sehari-harinya selalu hadir dalam hidup tiba-tiba direnggut begitu saja oleh sebuah kekuatan tak terlihat, tanpa kompromi dan tanpa banyak tanya. Sehari sebelumnya saya masih bersamanya, tapi kini tidak lagi. Perbedaan antara mati dan hidup hanya setarikan napas saja. Andai saya bisa melihat batasnya, dan andai saja semua ini tidak begitu tiba-tiba. Andai saja kita semua punya cukup waktu dalam hidup untuk memahami kematian. Tapi waktu tidak pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan.

Dalam waktu yang sangat singkat itu saya dipaksa untuk memahami bahwa manusia itu bukan tubuh yang bergerak kesana kemari tanpa tujuan. Tubuh memang tidak memahami apa-apa. Ada jiwa yang hidup di dalamnya yang memberikan tujuan kepada tubuh. Tangan, kaki, paru-paru, jantung dan otak, semuanya berhenti bekerja ketika jiwa itu pulang ke tempat asalnya, sesuai waktu yang telah ditentukan baginya. Yang terbaring di ruang tengah itu hanyalah tubuh, ia bukan Anak saya. Ya, tentu saja, rasanya tidak ada puas-puasnya mengucapkan selamat tinggal kepada tubuh yang akan dimakamkan itu, tapi Anakku yang sesungguhnya telah pergi. Begitulah kenyataan yang mesti diterima dan dipahami. Andai saja ada waktu yang cukup untuk memahami segalanya. Tapi hidup ini memang tidak pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan, dan akal saya pun tidak cukup mampu untuk mencarikan semua jawaban.

Kematian Anakku yang sangat mendadak kemarin sangat menyita pikiran saya. Entah berapa banyak berita kematian. Puluhan, bahkan ratusan kematian diwartakan di televisi dan surat kabar, namun saya tidak juga paham. Agaknya subjektifitas manusialah yang menyebabkan hatinya hanya tersentuh pada hal-hal yang dikenalnya saja.

Saya terhenyak selama beberapa saat ketika kamera menyorot prosesi pemakaman jenazahnya. Hampir tiga bulan setelah wafatnya Anakku, saya masih belum juga memahami kematian. Saya takjub dengan sebuah kekuatan yang mampu memisahkan tubuh dan jiwa, kemudian membuat situasi menjadi begitu berbeda. Segalanya berubah ketika jiwa berpulang ke kampung halamannya.

Nothing will ever be the same again.

Ya Allah, cukupkanlah akalku untuk memahami nasihat-Mu yang satu ini. Sungguh hidup ini terlalu singkat untuk menjawab semua pertanyaan. Duhai, betapa waktu kita tak banyak…

wassalaamu’alaikum wr. wb.



4 Tanggapan

  1. Wa’alaikumSalam WrWb.
    Turut berduka- cita Kang, atas meninggalnya ananda tercinta.
    Betul kata Akang, tipis sekali ya batasannya antara hidup dan kematian.
    Sering saya juga membayangkan jika suatu saat saya kehilangan orang2 tercinta, orang2 dekat saya.
    Akankah kuat saya menerimanya.
    Tentunya pasti tidak mudah. Dan tidak mudah ini tentu saja berbeda dengan tidak mudah seperti yang sedang Akang alami.
    Tentunya juga tidaklah pada tempatnya jika saya terkesan lebih tau dari Akang.
    Hanya… Kang.. barangkali jika berkenan, dan tentunya pasti tidak mudah. Tapi yuk sama- sama kita coba hadapi ujian ini dengan lapang- dada, ridho, berbaik- sangka kepada Alloh SWT.
    Kita yakinkan sama- sama bahwa almarhum Ananda tercinta tentunya tidak ingin melihat Ayah- Bundanya terus bersedih.
    Seolah ingin mengatakan” Ibu, Ayah, ngga usah lagi bersedih. Ananda sudah mendapat tempat yang Insya- Alloh layak disisi Alloh SWT. Tentunya kita tidak pernah meragukan dengan rencana dan ketentuan Alloh SWT. Yang tentunya selalu yang terbaik bagi kita. Tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan lagi. Tinggal ibu dan Ayah yang harus lanjutkan hidup ini. Kelak kita akan berkumpul tentunya”.
    Kang… punten…tidak ada maksud sok tau atau menggurui .Sekedar ingin sekali berbagi keprihatinan ini dan pelajaran bagi saya pribadi.
    Wassalam,

  2. Hatur Nuhun Patantos ngelingan ka abdi nu ayeuna dina kaayaan siga dina pasir hisapmcicing wae eungap nyobaan gerak kaluar rarasaan teh beuki kajepit

  3. Abdi oge turut berduka cita kang. Mudah2an dipasihan kasabaran ku Allah SWT.

    Amiin

  4. Atos atuh ulah di emutan wae, tuang putra parantos bebas tina penderitaan penyakit, ayeuna mah urang doakeun wae mugi2 Allah menempatkan beliau di sisi Allah SWT, nu dikantun sing tabah dan sabar dina mayunan ujian iyeu. Inna allaha ma’asobirin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: