SEBELAS TAHUN JADI TUKANG COET


Hari Minggu kemarin, aku bersama anakku yang paling kecil memperbaiki sepedanya yang sudah usang
katanya perlu didandani ulang karena sudah nggak enak di pakainya, memeng kalo dilihat udah nggak terawat
makanya aku sempatkan untuk merawatnya, tapi rupanya nggak cukup dirawat aja, anakku minta di ganti

images2.jpg beberapa bagiannya, setelah ditanya mau bagian apa aja yang perlu di ganti, ia menyebutkan beberapa bagian yang harus segera di ganti, diantaranya stang, rem, dan Ban luar nya dah gundul lagi
Karena alat tesebut nggak tersedia di sekitar tempat tinggal ku maka setelah membereskan alat aku segera pergi ke toko peralatan sepeda yang ada di daerah kosambi dengan menggunakan si hitam Vespa butut ku , setelah selesai belanja aku nggak segera pulang ke rumah tapi sengaja jalan- jalan dulu mumpung hari nggak hujan sengaja cari jalan yang memutar cari jalan yang nggak macet, mak aku ambil jalan Sunda, Bangka, Wijaya Kusuma, Manado, masuk Cihapit di taman Cibeunying aku berhenti dulu sambil mengisap sebatang rokok, abis sebatang aku lanjutkan perjalanan pulang sengaja aku jalan pelan sekali mungkin 15 – 20 km /jam
aku mengendarai motorku sambil menikmati pemandangan beberapa keluarga yang lagi santai di sekitar taman, menjelang Taman Kuda yang dulu dikenal dengan taman Cilaki tiba- tiba mataku tertuju pada serombongan anak tepatnya tiga orang anak yang semuanya tidak akan lebih tua dari anakku yang paling kecil
yang paling tua juga saya perkirakan 13 tahun, yang paling kecil usianya nggak bakalan lebih dari 11 tahun semuanya kurus seperti juga anakku, aku lihat yang paling kecil ia berjalan terseok karena mungkin beban yang ia bawa melebihi kemampuannya, ia berjualan Coet Batu ( Cobek Batu ) sebanyak enam pasang dengan cara dipikul, tentu enam buah coet batu plus enam ulekannya sebuah beban yang melampui batas kemampuan seorang anak 11 tahun jika hal tersebut harus dilakukan dengan keliling kota, dan saya pikir kapan lakunya, sebuah pekerjaan yang layaknya dilakukan oleh orang dewasa ini dilakukan oleh anak yang seharusnya bebabs bermain seperti anak lainnya, tapi sebuah tindakan yang lebih terhormat dari pada sekedar menadahkan tangan di persimpangan jalan, tapi tetap sebuah kenyataan yang pahit teramat pahit di mataku, begitu kejamnya kehidupan ini.

Saya pun pernah mengalami kehidupan masa kecil yang pahit tapi ak sepahit nasib anak-anak tersebut usia sebelas tahun harus keliling kota menawarkan benda yang entah kapan lakunya karena sudah jarang digunakan lagi.
Tiba-tiba lamunanku tersentak mengingat uang yang sudah dikeluarkan untuk kesenangan anakku ketika ia bermain, ia tak perlu kerja keras dan banting tulang untuk mempertahankan kehidupan , maka kuhentikan kembali sepeda motorku tepat di belakang gedung Sate tempat sang Gubernur berkantor kembali lamunanku menerawang apakah pak gubernur tau ada pekerja anak yang sudah kelewat batas, sambil mengisap sebatang rokok lagi kemani aku tersentak karena ada sapaan yang tidak terduga sebelumnya; ” pa’ bade meser Coet ” .

Hatiku kembali terhenyak, bukannya menjawab pertanyaannya, tapi hatiku istighfar….
kenapa kamu mendekatiku ketika aku menghindari kenyataan ini.
saat itu jawaban spontanku bukannya menolak atau menerima tawarannya tapi…
Ucapan spontanku yang keluar : ” kamu dah makan belum……..”
jawaban lirih yang kuterima : ” atos pa …..”
sedikit lega tapi aku tak percaya,melihat wajah pucatnya !
kusodorkan sedikit uang yang ada, dan sedikit kata perintah yang juga keluar dengan spontan: ” yeuh…dahar deuinya….”
” haturnuhun pa…jawabnya lirih ” sambil tak menurunkan beban yang ia pikul enam pasang coet batu yang menjadi tanggung jawabnya.
Tak mampu melihat kenyataan yang ada, saya hidupkan motorku tak sanggup lagi aku melihat ke belakang aku tak sanggup melihat langkan terseok sang anak,langsung pulang sambil ku jalankan motorku sekencang yang aku mampu, perasaan ingin segera ada di samping anak ku bercampur rasa galau yang mengharu biru….
Tuhan, pelajaran ini terlalu pahit untuk aku terima hari ini

Satu Tanggapan

  1. Ehm………..karunya nya, budak 11 tahun geus kudu nyiar napakah. ari sakolna kumaha tah?…….Naha teu aya sakola nu gratis kanggo orang2 teu mampu? Apan seueur di indo nu income na miliyaran….naha teu emut yen dina kakayaan maranehna nu karaya aya hakna pakir miskin?????…..ehm deudeuh tukang coet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: