nikmat itu sederhana saja


Sudah hampir seminggu aku merasa sangat suntuk entah apa sebabnya, mungkin rutinitas kerja? atau sebab lain yang tak ku sadari, sehingga ketika akhir pekan kemarin ada teman yang mengajakku jalan tanpa bertanya banyak aku sanggupi, ternyata temanku juga nggak tau mau pergi kemana, dengan sedikit heran aku mencoba meyakinkan arah mana yang akan kita tuju, jawabnya kamu yang harus menentukan kemana kita akan pergi.

Dengan sendirinya aku jawab spontan selatan jawabku ringan, ya ke arah selatan jawabku meyakinkan ketika ia balik bertanya, gak utara dia sedikit bercanda, gak jawabku aku tak tertarik sedikitpun untuk jalan kearah utara. Tanpa terasa perjalanan sudah melewati batas kota ia kembali bertanya mau kemana kita, ya terus aja arahkan ke selatan sampai akhirnya ia mulai mengerti kebiasaanku kalau merasa sunruk, ya mencari tempat yang sepi yang jauh dari hiruk pikuk kota besar yang menyesakkan.

Ketika jalan mulai menanjak dan udara mulai terasa sejuk, aku minta supaya AC dimatikan, ia bertanya mengapa mesti mematikan AC, aku jawab aku mau menikmati udara gunung, maka kubuka jendela selebar-lebarnya dan anginpun masu ke kabin dengan leluasa, terasa segar menerpa wajah, bau rumput yang baru dipotong menyergap terasa lebih menyegarkan.

Sambil terus ngobrol perjalanan tak terasa sudah mencapai puncaknya bandung selatan dan mulai memasuki daerah perkebunan teh dominan warna hijau sangat terasa kontras dengan situasi kesehariank, ketika perjalanan sudah memasuki daerah lembah mulai terlihat banyak warung sederhana,mungkin lebih tepat warung darurat yang kelihatannya hanya menyediakan dagangan seadanya. terlihat beberapa kendaraan yang parkir sementara penumpangnya duduk lesehan diatas tikar sambil menikmati pemandangan kebun teh, maka akupun meminta kendaraan menepi kearah warung yang berada di ketinggian, dan memang pemandanga yang disuguhkan cukup memberi kesegaran apalagi setelah segelas teh manis disuguhkan lengkap sudah kenikmatan ini.

Tiba-tiba temanku mengajak aku tuk jalan dikitaran kebun teh, aku rasa betul juga ya menikmati keheningan di tengah kebun teh tentu akan lebih mentyenangkan lagi, maka aku pun menelusuri jalan sempit diantara hamparan kebun teh, perjalanan yang dilakukan sambil ngobrol menyebabkan kita tak mengetahui mau kemana sesungguhnya perjalanan ini , ketika hal itu ditanyakan temanku hanya menjawab, semampu kaki kita melangkah itu tujuan kita berjalan, sehingga tak terasa nafasku mulai tersengal, karena jalanan yang terus menanjak,sampai akhirnya aku tiba tepat diatas puncak bukit, sambil rehat sebentar aku nikmati pemandangan di bawah, duh….terasa luas dunia ini dan menyenangkan, ketika temanku mengajak turun aku sangat antusias karena tentu turun lebih ringan dari pada naik, ternyata temanku mengajak turun melalui jalan yang terjal dan tidak lebih ringan dibandingkan ketika kita naik tadi.

sesampainya di warung tempat pertama kita jalan, aku sydah tidak banyak komentar lagi aku tidur rebahan diats tikar, kembali pemilik warung menyuguhkan segelas teh manis, aku sikat dalam satu dua tegukan tandas, akupun minta segelas bandrek hangat kepada pemilik warung, minuman sederhana,tempat yang amat sederhana ternyata manpu memberikan kenikmatan yang tak mungkin disebut sederhana

Alhandulillah ya ALLAH atas segala nikmat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: