Mati menurut Woody Allen


 

woody allen lupa minum panadol

Pernah mikirin dan takut gak kalau suatu saat orangtua kita bisa meninggal? Kadang gue ngerasa pengen mati muda, you know, biar gue gak usah ngeliat mereka -semua orang yang gue sayangin- meninggal.

Ya, kematian ngebuat gue ngerasa gak nyaman. Adeknya salah satu temen gue meninggal kemaren. Dia masih duduk di bangku SD. You see, hal-hal mengejutkan seperti ini ngebuat gue ngerasa bahwa semua yang kita punya sekarang ini bisa aja diambil. Seolah-olah benang yang nyambungin idup kita bisa dipotong begitu aja. Lalu ilang. Gak ada lagi. Nothing matters.

Secara kebetulan, sewaktu membuka email kemaren, seorang teman gue lulusan Filsafat UGM, Adi Baskoro, mengirimkan email berisi essai yang membedah buku Radikus Makankakus secara filosofis. Dalam esainya, dia membedah tulisan gue tentang kematian dan hidup dalam buku Radikus Makankakus. Ini cuplikannya:

“Kisah Radith semasa SMA mengandung pertanyaan klasik mendasar tentang apa itu hidup [Arti Hidup? , Radikus Makankakus halaman 87].Yakni ketika ketika Radith presentasi pada pelajaran Biologi soal asal usul kehidupan. Walaupun berujung tak terjawab, kisah Radith semasa SMA cukup mengusik ketenangan kita. Juga soal meninggalnya Bu Irfah dan keluarganya secara tak disangka-sangka. Kisah ini cukup untuk membuat kita hening sejenak dan melupakan tawa. Mengakui adanya peristiwa kematian adalah mengakui konsekuensi dari eksistensi, seperti kata Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman.”

Sejujurnya, sewaktu gue nulis cerita itu, gue juga semakin berpikir tentang kematian. Gue jadi inget, seorang filsuf Amerika, Mark Conard, pernah menulis esai God, Suicide, and the Meaning of Life yang membedah film-film Woody Allen dan hubungannya tentang hidup. Nah, dalam esai itu, dengan menggunakan cerita film Shadows and Fog-nya Woody Allen sebagai alat bantu, Mark Conrad mengatakan, “Kita butuh distraction, kita butuh ilusi dan penipuan-diri, untuk menghindarkan kita terhadap “kenyataan menyakitkan dari hidup”. Kenyataan, bahwa apa yang kita punya sekarang hanyalah sementara. Engga ada kekal, engga ada yang selamanya.”

Memang, ilusi-ilusi kesenangan yang kita ciptakan ini: jatuh cinta, bekerja di bidang yang disukai, nonton film, marathon DVD sampai pagi, makan sampai kekenyangan, bisa membantu kita dalam menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidup.. kita bisa aja tiba-tiba mati.

Ah, nulis cerita Arti Hidup dalam Radikus Makankakus, ngebuat gue jadi takut lagi pada kematian. Tapi, memang “distraction” adalah kata kuncinya untuk tetap jalan seperti biasa tanpa memikirkan kematian. Seperti yang ada dalam film September-nya Woody Allen, Stephanie berkata pada Lane yang mencoba untuk bunuh diri:

Stephanie: Besok akan datang dan kamu akan menemukan beberapa distraction. Kamu akan pergi dari tempat tempat ini, kamu akan kembali ke kota, kamu akan bekerja, kamu akan jatuh cinta, dan mungkin itu akan work out, atau mungkin tidak, tapi kamu akan menemukan sejuta hal-hal kecil yang akan membuat kamu terus berjalan, dan distraction yang akan menjauhkan kamu dalam memikirkan…
Lane: Kebenaran.

Maka, ketika Sabtu kemarin ada temen gue curhat, “Gue gak seneng deh ama pacar gue. Berantem mulu kerjaannya. Dia tuh demanding banget. Manja, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, pake teriak-teriak pula.” Gue cuman bisa bilang, “Lah, pacaran sama yang gitu-gituan kan hanya distraction kita. Pil injeksi kesenangan. Kalo udah kebanyakan gak enak daripada enaknya ngapain diterusin? Hidup terlalu singkat buat dijalanin dengan rasa gak nyaman.”

Balik ke Woody Allen, karakter-karakter dalam filmnya, walaupun mereka selalu takut dan insecure atas kematian, karakter-karakter ini menanggapinya dengan biasa: mereka semua seolah-olah hidup bahagia, terlepas dari semua chaos, kekosongan, dan kedinginan alam semesta yang mereka alami. Mereka bisa berinvestasi dalam kehidupan individual masing-masing dengan menggunakan nilai-nilai dan pemahaman sebuah relationship sebagai sarana untuk itu.

 

That’s what I love from Woody Allen. Dia selalu bisa menghadirkan humor kontemplatif yang memberitahu bahwa ketawa aja gak cukup, tapi kita butuh pemahaman. Atau seperti kata Socrates, “An unexamined life is a life not worth living.” Sebuah hidup tanpa pemahaman, adalah hidup yang tak layak untuk dijalani. Sedangkan, humor yang bagus, menurut gue, adalah humor yang membuat kita berpikir, and that’s what Allen do best.

Lanjut, seperti tokoh Ben yang religius dalam film Crimes-nya Woody Allen, kita juga mempunyai Tuhan untuk bersandar, dan menjadi sarana untuk menjalani hal-hal keras dalam hidup. Berhubungan dengan Tuhan, bulan Ramadhan, dan kematian; setidaknya kita saat ini bisa “nabung” pahala. Setidaknya, ketika kematian itu datang dan membawa kita pergi ke alam lain itu, kita bisa berada di tempat yang lebih baik. Tempat yang engga cuman ilusi, tapi kekekalan penuh rasa senang, dan kebanggaan karena kita bisa menaklukan hidup, dan pada akhirnya.. end up eternally happy.

Sumber: Raditya Dhika ( Kambing Jantan )

Satu Tanggapan

  1. hai, boleh tolong dicantumkan sumber anda mendapat tulisan ini, biar gak ada salah paham dan disangka plagiarisme gitu. terimakasih.🙂

    radith

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: