Tak ada yang berubah dari sosok lelaki parobaya kelahiran tahun 1953 itu. Saya mengenalnya saat ia menjadi reporter majalah Saksi, sebuah majalah dakwah yang berada satu grup dengan majalah Annida, tempat saya bekerja. Orang-orang mengatakan dahulu lelaki cerdas itu adalah
aktivis gerakan Persatuan Islam Indonesia.
“Jalan yang dilaluinya tak mudah,” kata seorang teman dekatnya.
Lelaki itu pernah berkelana di Bandung, tidur di masjid-masjid. la merantau sampai ke Jakarta dan pernah tinggal di Pasar Senen. la bekerja apa saja secara serabutan, yang penting jelas
kehalalannya. Sampai kemudian ia tinggal dan mengurus masjid Al Fatah yang ada di markas PIT di Jakarta.
Di sanalah ia bertemu dengan beberapa tokoh PII yang kemudian memperkenalkannya pada Muhammad Natsir dan Muhammad Roem, tokoh-tokoh Masyumi yang ia kagumi. Lucunya, rezim Orde Baru pernah menahan lelaki itu dari sel ke sel selama 6 bulan dengan alasan ia dicurigai terlibat insiden peledakan Istiqlal, 20 Maret, 1978. Penangkapan tersebut dilakukan hanya karena lelaki itu sering nongkrong di masjid Istiqlal untuk membagi-bagikan buletin Islam yang
dikelolanya.
Keluar dari penjara, lelaki itu diminta Muhammad Roem menjadi sekretaris pribadi. Tokoh ini pula yang kemudian memberi lelaki itu kesempatan untuk kuliah lagi di Akademi Publisistik, di Jakarta. Tapi ia tetap tidur di masjid Al Fatah. Merawat masjid itu dengan cinta. Sementara waktu terus berlalu….
Proses kehidupan panjang dan berliku pada akhirnya membawa lelaki itu pada Partai Keadilan. Tahun 1999, ia menjadi salah satu deklarator partai tersebut. Dan ketika Partai Keadilan mendapat kursi di DPR, maka lelaki itu dipercaya sebagai salah satu orang yang tepat untuk
mendudukinya.
Tapi, tak ada yang berubah dari lelaki itu. Ia tetap seorang redaktur majalah yang hafal semua rute angkutan kota, bahkan tak risih berjalan kaki ke mana-mana. la adalah suami sekaligus bapak 10 anak yang sederhana dan bersahaja. la tak pernah kompromi pada penyuapan dalam bentuk apa pun dan sangat tegas dalam menyuarakan kebenaran.
Media boleh mengatakan lelaki yang pernah bekerja sebagai tukang sapu di Pasar Senen dan kini duduk di Komisi I DPR RI itu adalah wakil rakyat Indonesia yang termiskin. Tapi, di mata saya, ia salah satu lelaki ‘terkaya’ yang siap melangkah dan mengulurkan kedua tangannya di
jalan kebenaran.
Semoga Allah senantiasa bersamanya menapaki hari-hari penuh perjuangan. Doa saya untukmu, Pak Mashadi.
DIarsipkan di bawah: CATATAN PINGGIR | 3 Komentar »
































Tahukah Anda apa yang membanggakan saya dari seorang Kinan Nasanti? Setiap orang merasa aman mempercayakan rahasia mereka padanya! Begitu banyak teman (bahkan yang baru mengenalnya) menjadikannya tempat curhat. “Saya sudah cerita semua masalah saya pada Kinan, Mbak,” kata Vita. “Aku ceritakan saja semua pada Mbak Kinan,” tutur Dian. “Aku sampai nangis, lho, curhat ke Kinan,” kali ini Wida. “Mbak Kinan, aku mau ceritaaaa …” “Nan, ada waktu nggak untuk dengar ceritaku?” tanya Ika. Dan, apa yang dilakukan Kinan? Ia mendengar dengan telinga dan hati sekaligus. Ia tidak semata menunjukkan simpati, tapi empati. Ia berusaha mencari solusi atau memberi nasihat yang berarti. Lebih dari itu, komitmen. “Insya Allah, kita hadapi bersama, ya. Saya akan bantu. Semoga Allah memberi kekuatan.” Tapi tahukan Anda siapa Kinan sebenarnya? Ia hanya seorang muslimah biasa dengan tubuh yang sangat mungil (serupa anak saya yang menjelang kelas II SD). Hari-harinya adalah cobaan. Ayahnya sudah meninggal. Sang ibu sakit- sakitan. Ia masih harus menghadapi seorang kakak yang tidak stabil secara mental serta seorang adik yang sakit jiwa! Belum lagi masalah lainnya. Dan, ia menghadapinya dengan ketabahan luar biasa. Bagaimana bisa? pikir saya. “Allah, Mbak. Allah tempat bersandar yang sejati. Ia pasti tak akan membiarkan hambaNya. Ia tak akan membiarkan saya, Mbak,” katanya suatu ketika. Di tengah dera cobaan, ia bisa lulus kuliah dari Universitas Indonesia dengan nilai baik. Ia mengajar di sebuah pesantren dan dicintai begitu banyak muridnya. Ia masih sempat bekerja di sebuah penerbitan, menulis untuk beberapa majalah dan antologi cerpen bersama, membina majelis taklim, menjadi pengurus organisasi Forum Lingkar Pena dan aktif dalam berbagai kegiatan Partai Keadilan di wilayahnya. Tidak hanya itu. Hari-hari belakangan ini, ia sibuk memikirkan teman-temannya yang belum menikah pada usia menjelang atau lebih dari 30 tahun, dan mencoba mencarikan untuk mereka lelaki muslim yang baik. Tidak memikirkan diri sendiri. Tidak rendah diri karenaa tubuh mungilnya.Hanya kerendahan hati. Tak ada duka karena derita. Hanya mata yang berbinar dan senyum saat bertemu kami. Tahukah Anda kalimat yang sering ia ucapkan kala bersama kami? “Mahabesar Allah yang memberi saya kenikmatan yang tak habis untuk disyukuri.” Helvy Tiana Rosa
